BAB 3 FLUIDA STATIS
Fluida adalah zat yang dapat mengalir dan berubah bentuk (dapat
dimampatkan) jika diberi tekanan. Jadi, yang termasuk ke dalam fluida
adalah zat cair dan gas. Perbedaan antara zat cair dan gas terletak pada
kompresibilitasnya atau ketermampatannya. Gas mudah dimampatkan,
sedangkan zat cair tidak dapat dimampatkan. Ditinjau dari keadaan
fisisnya, fluida terdiri atas fluida statis atau hidrostatika, yaitu
ilmu yang mempelajari tentang fluida atau zat alir yang diam (tidak
bergerak) dan fluida dinamis atau hidrodinamika, yaitu ilmu yang
mempelajari tentang zat alir atau fluida yang bergerak. Hidrodinamika
yang khusus membahas mengenai aliran gas dan udara disebut aerodinamika.
A. Fluida Statis
Sifat fisis fluida dapat ditentukan dan dipahami lebih jelas saat fluida berada dalam keadaan diam (statis). Sifat-sifat fisis fluida statis yang akan dibahas pada subbab ini di antaranya, massa jenis, tekanan, tegangan permukaan, kapilaritas, dan viskositas. Bahasan mengenai massa jenis dan tekanan telah Anda pelajari di SMP sehingga uraian materi yang disajikan dalam subbab ini hanya bertujuan mengingatkan Anda tentang materi tersebut.
Catatan Fisika :
Ikan Tulang Keras
![]() |
| Guiyu oneiros, Bony fish. [2] |
1. Massa Jenis
Pernahkah Anda membandingkan berat antara kayu dan besi? Benarkah
pernyataan bahwa besi lebih berat daripada kayu? Pernyataan tersebut
tentunya kurang tepat, karena segelondong kayu yang besar jauh lebih
berat daripada sebuah bola besi. Pernyataan yang tepat untuk
perbandingan antara kayu dan besi tersebut, yaitu besi lebih padat
daripada kayu.
Anda tentu masih ingat, bahwa setiap benda memiliki kerapatan massa yang
berbeda-beda serta merupakan sifat alami dari benda tersebut. Dalam
Fisika, ukuran kepadatan (densitas) benda homogen disebut massa jenis,
yaitu massa per satuan volume. Secara matematis, massa jenis dituliskan
sebagai berikut.
ρ = m / V (1-1)
dengan:
m = massa (kg atau g),
V = volume (m3 atau cm3), dan
ρ = massa jenis (kg/m3 atau g/cm3)
Jenis beberapa bahan dan massa jenisnya dapat dilihat pada Tabel 1. berikut.
Tabel 1. Massa Jenis atau Kerapatan Massa (Density)
Bahan
|
Massa Jenis (g/cm3)
|
Nama
Bahan
|
Massa Jenis (g/cm3)
|
Air
|
1,00
|
Gliserin
|
1,26
|
Aluminium
|
2,7
|
Kuningan
|
8,6
|
Baja
|
7,8
|
Perak
|
10,5
|
Benzena
|
0,9
|
Platina
|
21,4
|
Besi
|
7,8
|
Raksa
|
13,6
|
Emas
|
19,3
|
Tembaga
|
8,9
|
Es
|
0,92
|
Timah
Hitam
|
11,3
|
Etil
Alkohol
|
0,81
|
||
Sumber : College
Physics, 1980
|
|||
2. Tekanan Hidrostatis
Masih ingatkah Anda definisi tekanan? Tekanan adalah gaya yang bekerja
tegak lurus pada suatu permukaan bidang dan dibagi luas permukaan bidang
tersebut. Secara matematis, persamaan tekanan dituliskan sebagai
berikut.
p = F / A (1-2)
dengan:
F = gaya (N),
A = luas permukaan (m2), dan
p = tekanan (N/m2 = Pascal).
Persamaan (1–2) menyatakan bahwa tekanan p berbanding terbalik dengan
luas permukaan bidang tempat gaya bekerja. Jadi, untuk besar gaya yang
sama, luas bidang yang kecil akan mendapatkan tekanan yang lebih besar
daripada luas bidang yang besar. Dapatkah Anda memberikan beberapa
contoh penerapan konsep tekanan dalam kehidupan sehari-hari?
Tekanan hidrostatis disebabkan oleh fluida tak bergerak. Tekanan
hidrostatis yang dialami oleh suatu titik di dalam fluida diakibatkan
oleh gaya berat fluida yang berada di atas titik tersebut. Perhatikanlah
Gambar 1.
Jika besarnya tekanan hidrostatis pada dasar tabung adalah p, menurut
konsep tekanan, besarnya p dapat dihitung dari perbandingan antara gaya
berat fluida (F) dan luas permukaan bejana (A).
![]() |
| Gambar 1. Dasar bejana yang terisi dengan fluida setinggi h akan mengalami tekanan hidrostatis sebesar p. |
p = F / A = gaya berat fluida / luas permukaan bejana
Gaya berat fluida merupakan perkalian antara massa fluida dengan p = (mfluida x g) / A. Oleh karena m = ρV, persamaan tekanan oleh fluida dituliskan sebagai p = ρVg / A.
Volume fluida di dalam bejana merupakan hasil perkalian antara luas
permukaan bejana (A) dan tinggi fluida dalam bejana (h). Oleh karena
itu, persamaan tekanan di dasar bejana akibat fluida setinggi h dapat
dituliskan menjadi :
p = ρ (Ah)g / A = ρhg
Jika tekanan hidrostatis dilambangkan dengan ph, persamaannya dituliskan sebagai berikut.
ph = ρ gh (1–3)
dengan:
ph = tekanan hidrostatis (N/m2),
ρ = massa jenis fluida (kg/m3),
g = percepatan gravitasi (m/s2), dan
h = kedalaman titik dari permukaan fluida (m).
Semakin tinggi dari permukaan Bumi, tekanan udara akan semakin
berkurang. Sebaliknya, semakin dalam Anda menyelam dari permukaan laut
atau danau, tekanan hidrostatis akan semakin bertambah. Mengapa
demikian? Hal tersebut disebabkan oleh gaya berat yang dihasilkan oleh
udara dan zat cair. Anda telah mengetahui bahwa lapisan udara akan
semakin tipis seiring bertambahnya ketinggian dari permukaan Bumi
sehingga tekanan udara akan berkurang jika ketinggian bertambah. Adapun
untuk zat cair, massanya akan semakin besar seiring dengan bertambahnya
kedalaman. Oleh karena itu, tekanan hidrostatis akan bertambah jika
kedalaman bertambah.
Contoh Soal 1 :
Tabung setinggi 30 cm diisi penuh dengan fluida. Tentukanlah tekanan hidrostatis pada dasar tabung, jika g = 10 m/s2 dan tabung berisi:
a. air,
b. raksa, dan
c. gliserin.
Gunakan data massa jenis pada Tabel 7.1.
Kunci Jawaban :
Diketahui: h = 30 cm dan g = 10 m/s2.
a. Tekanan hidrostatis pada dasar tabung yang berisi air:
Ph = ρ gh = (1.000 kg/m3) (10 m/s2) (0,3 m) = 3.000 N/m2
b. Tekanan hidrostatis pada dasar tabung yang berisi air raksa:
Ph = ρ gh = (13.600 kg/m3) (10 m/s2) (0,3 m) = 40.800 N/m2
c. Tekanan hidrostatis pada dasar tabung yang berisi gliserin:
Ph = ρ gh = (1.260 kg/m3) (10 m/s2) (0,3 m) = 3.780 N/m2
Perhatikan Gambar 2.
Pada gambar tersebut, tekanan hidrostatis di titik A, B, dan C
berbeda-beda. Tekanan hidrostatis paling besar adalah di titik C.
Dapatkah Anda menjelaskan alasannya?
![]() |
| Gambar 2. Semakin dalam kedudukan sebuah titik dalam fluida, tekanan hidrostatis di titik tersebut akan semakin besar. |
Prinsip tekanan hidrostatis ini digunakan pada alat-alat pengukur
tekanan. Alat-alat pengukur tekanan yang digunakan untuk mengukur
tekanan gas, di antaranya sebagai berikut.
a. Manometer Pipa Terbuka
Manometer pipa terbuka adalah alat pengukur tekanan gas yang paling
sederhana. Alat ini berupa pipa berbentuk U yang berisi zat cair.
Perhatikan Gambar 3.
Ujung yang satu mendapat tekanan sebesar p (dari gas yang hendak diukur
tekanannya) dan ujung lainnya berhubungan dengan tekanan atmosfir (p0).
![]() |
| Gambar 3. Manometer pipa terbuka. [3] |
Besarnya tekanan udara di titik y1 = p0, sedangkan tekanan udara di titik y2 = p. y1 memiliki selisih ketinggian Δy1 = 0 dan y2 memiliki selisih ketinggian Δy2 = h.
Berdasarkan Persamaan (1–3) tentang besar tekanan hidrostatik, besarnya
tekanan udara dalam tabung pada Gambar 3. dinyatakan dengan persamaan
berikut ini.
pgas = p – p0 = ρ gh (1–4)
dengan ρ = massa jenis zat cair dalam tabung.
b. Barometer
Barometer raksa ini ditemukan pada 1643 oleh Evangelista Torricelli, seorang ahli Fisika dan Matematika dari Italia.
Ia mendefinisikan tekanan atmosfir dalam bukunya yang berjudul "A Unit
of Measurement, The Torr" Tekanan atmosfer (1 atm) sama dengan tekanan
hidrostatis raksa (mercury) yang tingginya 760 mm. Cara mengonversikan
satuannya adalah sebagai berikut.
![]() |
| Gambar 4. Skema barometer raksa. |
ρ raksa × percepatan gravitasi Bumi × panjang raksa dalam tabung
atau
(13.600 kg/cm3)(9,8 m/s2)(0,76 m) = 1,103 × 105 N/m2
Jadi,
1 atm = 76 cmHg = 1,013 × 105 N/m2 (1–5)
c. Pengukur Tekanan Ban
Alat ini digunakan untuk mengukur tekanan udara di dalam ban. Bentuknya
berupa silinder panjang yang di dalamnya terdapat pegas. Saat ujungnya
ditekankan pada pentil ban, tekanan udara dari dalam ban akan masuk ke
dalam silinder dan menekan pegas. Besarnya tekanan yang diterima oleh
pegas akan diteruskan ke ujung lain dari silinder yang dihubungkan
dengan skala. Skala ini telah dikalibrasi sehingga dapat menunjukkan
nilai selisih tekanan udara luar (atmosfer) dengan tekanan udara dalam
ban.
![]() |
| Gambar 5. Alat pengukur tekanan udara di dalam ban. |
3. Tekanan Total
Tinjaulah sebuah tabung yang diisi dengan fluida setinggi h, seperti tampak pada Gambar 6.
Pada permukaan fluida yang terkena udara luar, bekerja tekanan udara
luar yang dinyatakan dengan p. Jika tekanan udara luar ikut
diperhitungkan, besarnya tekanan total atau tekanan mutlak pada satu
titik di dalam fluida adalah
![]() |
| Gambar 6. Tekanan total atau tekanan mutlak yang dialami oleh titik A yang berada di dalam suatu fluida adalah sebesar pA. |
pA
= p0 + ρ gh (1–6)
dengan:
p0 = tekanan udara luar = 1,013 × 105 N/m2, dan
pA = tekanan total di titik A (tekanan mutlak).
Contoh Soal 2 :
Jika diketahui tekanan udara luar 1 atm dan g = 10 m/s2, tentukanlah tekanan total di bawah permukaan danau pada kedalaman:
a. 10 cm,
b. 20 cm, dan
c. 30 cm.
Kunci Jawaban :
Diketahui: p0 = 1 atm dan g = 10 m/s2.
a. Tekanan total di bawah permukaan danau pada kedalaman 10 cm:
pA = p0 + ρgh = (1,013 × 105
N/m2) + (1.000 kg/m3) (10 m/s2) (0,1 m)
pA= 1,023 × 105 N/m2
b. Tekanan total di bawah permukaan danau pada kedalaman 20 cm:
pA = p0 + ρgh = (1,013 × 105
N/m2) + (1.000 kg/m3) (10 m/s2) (0,2 m)
pA = 1,033.105 N/m2
c. Tekanan total di bawah permukaan danau pada kedalaman 30 cm:
pA = p0 + ρgh = (1,013 × 105
N/m2) + (1.000 kg/m3) (10 m/s2) (0,3 m)
pA = 1,043.105 N/m24. Hukum Utama Hidrostatis
Perhatikanlah Gambar 7.
Gambar tersebut memperlihatkan sebuah bejana berhubungan yang diisi
dengan fluida, misalnya air. Anda dapat melihat bahwa tinggi permukaan
air di setiap tabung adalah sama, walaupun bentuk setiap tabung berbeda.
Bagaimanakah tekanan yang dialami oleh suatu titik di setiap tabung?
Samakah tekanan total di titik A, B, C, dan D yang letaknya segaris?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Anda harus mengetahui Hukum Utama
Hidrostatis.
![]() |
| Gambar 7. Tekanan di titik A, B, C, dan D sama besar, serta tidak bergantung pada bentuk penampang tempat fluida tersebut. |
Hukum Utama Hidrostatis menyatakan bahwa semua titik yang berada pada
bidang datar yang sama dalam fluida homogen, memiliki tekanan total yang
sama. Jadi, walaupun bentuk penampang tabung berbeda, besarnya tekanan
total di titik A, B, C, dan D adalah sama.
Persamaan Hukum Utama Hidrostatis dapat diturunkan dengan memperhatikan Gambar 8.
Misalkan, pada suatu bejana berhubungan dimasukkan dua jenis fluida yang massa jenisnya berbeda, yaitu ρ1 dan ρ2.
![]() |
| Gambar 8. Tekanan total di titik A dan B pada bejana U yang terisi fluida homogen adalah sama besar, pA = pB. |
Jika diukur dari bidang batas terendah antara fluida 1 dan fluida 2, yaitu titik B dan titik A, fluida 2 memiliki ketinggian h2 dan fluida 1 memiliki ketinggian h1.
Tekanan total di titik A dan titik B sama besar. Menurut persamaan
tekanan hidrostatis, besarnya tekanan di titik A dan titik B bergantung
pada massa jenis fluida dan ketinggian fluida di dalam tabung. Secara
matematis, persamaannya dapat dituliskan sebagai berikut.
pA = pB
p0 + ρ1gh1 = p0
+ ρ2gh2
ρ1h1= ρ2h2 (1–7)
dengan:
h1 = jarak titik A terhadap permukaan fluida 1,
h2 = jarak titik B terhadap permukaan fluida 2,
ρ1 = massa jenis fluida satu, dan
ρ2 = massa jenis fluida dua.
Contoh Soal 3 :
Perhatikanlah gambar bejana di bawah ini.
Jika diketahui massa jenis minyak 0,8 g/cm3, massa jenis raksa 13,6 g/cm3, dan massa jenis air 1 g/cm3, tentukanlah perbedaan tinggi permukaan antara minyak dan air.
Kunci Jawaban :
Diketahui: ρm = 0,8 g/cm3, ρr = 13,6,
dan ρair = 1 g/cm3.
ρaha = ρmhm → ha
= (ρm / ρa) hm = (0,8 g/cm3) / (1
g/cm3) x 15 cm3 = 12 cm.
Jadi, perbedaan tinggi permukaan minyak dan air = 15 cm – 12 cm = 3 cm.
Tokoh Fisika :
Blaise Pascal lahir di Clermont-Ferrand, Prancis. Ia dikenal sebagai
seorang matematikawan dan fisikawan yang handal. Penelitiannya dalam
ilmu Fisika, membuat ia berhasil menemukan barometer, mesin hidrolik dan
jarum suntik. (Sumber: www.all iographies.com)
5. Hukum Pascal
Bagaimana jika sebuah bejana U diisi dengan fluida homogen dan salah
satu pipanya ditekan dengan gaya sebesar F? Proses Fisika yang terjadi
pada bejana U seperti itu diselidiki oleh Blaise Pascal. Melalui
penelitiannya, Pascal berkesimpulan bahwa apabila tekanan diberikan pada
fluida yang memenuhi sebuah ruangan tertutup, tekanan tersebut akan
diteruskan oleh fluida tersebut ke segala arah dengan besar yang sama
tanpa mengalami pengurangan. Pernyataan ini dikenal sebagai Hukum Pascal
yang dikemukakan oleh Pascal pada 1653.
Secara analisis sederhana, Hukum Pascal dapat digambarkan seperti pada Gambar 9.
Tekanan oleh gaya sebesar F1 terhadap pipa 1 yang memiliki luas penampang pipa A1 , akan diteruskan oleh fluida menjadi gaya angkat sebesar F2 pada pipa 2 yang memiliki luas penampang pipa A2 dengan besar tekanan yang sama. Oleh karena itu, secara matematis Hukum Pascal ditulis sebagai berikut.
![]() |
| Gambar 9. Tekanan F1 di pipa satu sama besar dengan gaya angkat di pipa dua. |
p1 = p2
F1 / A1 = F2 / A2 (1–8)
dengan:
F1 = gaya pada pengisap pipa 1,
A1 = luas penampang pengisap pipa 1,
F2 = gaya pada pengisap pipa 2, dan
A2 = luas penampang pengisap pipa 2.
Contoh Soal 4 :
Alat pengangkat mobil yang memiliki luas pengisap masing-masing sebesar 0,10 m2 Cerdas dan 4 × 10–4 m2 digunakan untuk mengangkat mobil seberat 2 × 104 N. Berapakah besar gaya yang harus diberikan pada pengisap yang kecil?
Kunci Jawaban :
Diketahui: A1 = 4 × 10–4 m2, A2 = 0,1 m2, dan F2 = 2 × 104 N.
F1 = 80 N.
Dengan demikian, gaya yang harus diberikan pada pengisap yang kecil adalah 80 N.
Dengan demikian, gaya yang harus diberikan pada pengisap yang kecil adalah 80 N.
Contoh Soal 5 :
Sebuah pompa hidrolik berbentuk silinder memiliki jari-jari 4 cm dan 20
cm. Jika pengisap kecil ditekan dengan gaya 200 N, berapakah gaya yang
dihasilkan pada pengisap besar?
Kunci Jawaban :
Diketahui: r2 = 20 cm, r1
= 4 cm, dan F1 = 200 N.
F2 = 5.000 N
Contoh Soal 6 :
Sebuah pipa berdiameter 9 cm dialiri air berkecepatan 5 m/s, kemudian
terhubung dengan pipa berdiameter 3 cm. Kecepatan air pada pipa yang
berdiameter 3 cm adalah ....
a. 3 m/s
b. 9 m/s
c. 18 m/s
d. 27 m/s
Hukum Pascal dimanfaatkan dalam peralatan teknik yang banyak membantu
pekerjaan manusia, antara lain dongkrak hidrolik, pompa hidrolik, mesin
hidrolik pengangkat mobil, mesin pres hidrolik, dan rem hidrolik.
Berikut pembahasan mengenai cara kerja beberapa alat yang menggunakan
prinsip Hukum Pascal.
a. Dongkrak Hidrolik
Dongkrak hidrolik merupakan salah satu aplikasi sederhana dari Hukum
Pascal. Berikut ini prinsip kerja dongkrak hidrolik. Saat pengisap kecil
diberi gaya tekan, gaya tersebut akan diteruskan oleh fluida (minyak)
yang terdapat di dalam pompa. Akibatnya, minyak dalam dongkrak akan
menghasilkan gaya angkat pada pengisap besar dan dapat mengangkat beban
di atasnya.
![]() |
| Gambar 10. Skema dongkrak hidrolik. |
b. Mesin Hidrolik Pengangkat Mobil
Mesin hidrolik pengangkat mobil ini memiliki prinsip yang sama dengan
dongkrak hidrolik. Perbedaannya terletak pada perbandingan luas
penampang pengisap yang digunakan. Pada mesin pengangkat mobil,
perbandingan antara luas penampang kedua pengisap sangat besar sehingga
gaya angkat yang dihasilkan pada pipa berpenampang besar dan dapat
digunakan untuk mengangkat mobil.
![]() |
| Gambar 11. Mesin hidrolik pengangkat mobil. [5] |
c. Rem Hidrolik
Rem hidrolik digunakan pada mobil. Ketika Anda menekan pedal rem, gaya
yang Anda berikan pada pedal akan diteruskan ke silinder utama yang
berisi minyak rem. Selanjutnya, minyak rem tersebut akan menekan
bantalan rem yang dihubungkan pada sebuah piringan logam sehingga timbul
gesekan antara bantalan rem dengan piringan logam. Gaya gesek ini
akhirnya akan menghentikan putaran roda.
![]() |
| Gambar 12. Prinsip kerja rem hidrolik. [5] |
6. Hukum Archimedes
Anda tentunya sering melihat kapal yang berlayar di laut, benda-benda
yang terapung di permukaan air, atau batuan-batuan yang tenggelam di
dasar sungai. Konsep terapung, melayang, atau tenggelamnya suatu benda
di dalam fluida, kali pertama diteliti oleh Archimedes.
Menurut Archimedes, benda yang dicelupkan sebagian atau seluruhnya ke
dalam fluida, akan mengalami gaya ke atas. Besar gaya ke atas tersebut
besarnya sama dengan berat fluida yang dipindahkan oleh benda. Secara
matematis, Hukum Archimedes dituliskan sebagai berikut.
FA = ρfVfg (1–9)
dengan:
FA = gaya ke atas (N),
ρf = massa jenis fluida (kg/m3),
Vf = volume fluida yang dipindahkan (m3),
dan
g = percepatan gravitasi (m/s3).
Berdasarkan Persamaan (1–9) dapat diketahui bahwa besarnya gaya ke atas
yang dialami benda di dalam fluida bergantung pada massa jenis fluida,
volume fluida yang dipindahkan, dan percepatan gravitasi Bumi.
Tokoh Fisika :
Archimedes lahir di Syracus, Romawi.Ia dikenal dan dikenang karena
sejumlah hasil karyanya di bidang Fisika dan Matematika yang memberikan
banyak manfaat dalam kehidupan manusia. Hasil karyanya dalam ilmu Fisika
antara lain alat penaik air dan hidrostatika. Ungkapannya yang terkenal
saat ia menemukan gaya ke atas yang dialami oleh benda di dalam fluida,
yaitu “ ureka” sangat melekat dengan namanya. (Sumber:
www.allbiographies.com)
Percobaan Fisika Sederhana 1 :
Menguji Teori Archimedes
Alat dan Bahan
- Dua buah bejana yang identik
- Neraca sama lengan
- Neraca pegas
- Beban
- Air
Prosedur
- Gantunglah beban pada neraca pegas.
- Catatlah nilai yang ditunjukkan oleh neraca pegas sebagai berat beban tersebut.
- Isilah salah satu bejana dengan air, kemudian timbanglah beban di dalam air. Catatlah angka yang ditunjukkan oleh neraca pegas sebagai berat beban di dalam air.
- Bandingkanlah berat beban saat ditimbang di udara dengan berat beban saat ditimbang di dalam air. Apakah yang dapat Anda simpulkan dari kegiatan tersebut?
- Letakkan kedua bejana identik ke setiap lengan neraca sama lengan.
- Isilah kedua bejana identik dengan air sampai penuh. Kemudian, secara perlahan masukkan beban ke dalam salah satu bejana, sambil menampung air yang tumpah dari dalam bejana.
- Amatilah posisi neraca sama lengan setelah beban berada di dalam salah satu bejana.
- Hitunglah volume beban yang digunakan, kemudian bandingkan volume tersebut dengan volume air yang dipindahkan ketika beban dimasukkan ke dalam air.
- Apakah yang dapat Anda simpulkan?
- Diskusikanlah bersama teman kelompok dan guru Fisika Anda.
Anda telah mengetahui bahwa suatu benda yang berada di dalam fluida
dapat terapung, melayang, atau tenggelam. Agar Anda dapat mengingat
kembali konsep Fisika dan persamaan yang digunakan untuk menyatakan
ketiga perisiwa tersebut, pelajarilah uraian berikut.
a. Terapung
Benda yang dicelupkan ke dalam fluida akan terapung jika massa jenis benda lebih kecil daripada massa jenis fluida (ρb < ρf). Massa jenis benda yang terapung dalam fluida memenuhi persamaan berikut.
(1–10)
atau
(1–11)
dengan :
Vbf = volume benda yang tercelup dalam fluida (m3),
Vb = volume benda (m3),
hbf = tinggi benda yang tercelup dalam fluida
(m),
hb = tinggi benda (m),
ρb = massa jenis benda (kg/m3), dan
ρf = massa jenis fluida (kg/m3).
Sebuah balok kayu (ρ = 0,6 kg/m3) bermassa 60 g dan volume 100 cm3 dimasukkan ke dalam air. Ternyata, 60 cm3 kayu tenggelam sehingga volume air yang dipindahkan sebesar 60 cm3 ( 0,6 N ).
![]() |
| Gambar 13. Balok kayu bervolume 100 cm3 dimasukkan ke dalam air. [7] |
b. Melayang
Benda yang dicelupkan ke dalam fluida akan melayang jika massa jenis benda sama dengan massa jenis fluida (ρb = ρf). Dapatkah Anda memberikan contoh benda-benda yang melayang di dalam zat cair?
c. Tenggelam
Benda yang dicelupkan ke dalam fluida akan tenggelam jika massa jenis benda lebih besar daripada massa jenis fluida (ρb > ρf). Jika benda yang dapat tenggelam dalam fluida ditimbang di dalam fluida tersebut, berat benda akan menjadi
wbf = w – FA (1–12)
atau
wbf = (ρb – ρf) Vbg (1–13)
dengan:
wbf = berat benda dalam fluida (N), dan
w = berat benda di udara (N).
Perhatikanlah Gambar 14.
Aluminium (ρ = 2,7 g/cm3) yang bermassa 270 g dan memiliki volume 100 cm3,
ditimbang di udara. Berat aluminium tersebut sebesar 2,7 N. Ketika
penimbangan dilakukan di dalam air, volume air yang dipindahkan adalah
100 cm3 dan
menyebabkan berat air yang dipindahkan sebesar 1 N (m = ρ V dan w =
mg). Dengan demikian, gaya ke atas FA yang dialami aluminium sama dengan
berat air yang dipindahkan, yaitu sebesar 1 N. Berat aluminium di dalam
air menjadi
![]() |
| Gambar 14. (a) Balok aluminium dengan volume 100 cm3 di udara. (b) Balok aluminium dengan volume 100 cm3 ditimbang di dalam air Apakah beratnya sama? [7] |
wbf = w – FA
wbf = 2,7 N – 1 N
wbf = 1,7 N
Contoh Soal 7 :
Sebuah batu memiliki berat 30 N Jika ditimbang di udara. Jika batu
tersebut ditimbang di dalam air beratnya = 21 N. Jika massa jenis air
adalah 1 g/cm3, tentukanlah:
a. gaya ke atas yang diterima batu,
b. volume batu, dan
c. massa jenis batu tersebut.
Kunci Jawaban :
Diketahui: w = 30 N, wbf = 21 N, dan ρair = 1 g/cm3.
ρ air = 1 g/cm3 = 1.000 kg/m3
a. wbf = w – FA
21 N = 30 N – FA
FA = 9 N
b. FA = ρ air V batu g
9 N = (1.000 kg/m3) (Vbatu) (10 m/s2)
Vbatu = 9 × 10–4 m3
ρ batu = 3.333,3 kg/m3.
Contoh Soal 8 :
Sebuah bola logam padat seberat 20 N diikatkan pada seutas kawat dan dicelupkan ke dalam minyak (ρ minyak = 0,8 g/cm3). Jika massa jenis logam 5 g/cm3, berapakah tegangan kawat?
Kunci Jawaban :
Diketahui: wbola = 20 N, ρ minyak
= 0,8 g/cm3, dan ρlogam = 5 g/cm3.
Berdasarkan uraian gaya-gaya yang bekerja pada bola, dapat dituliskan persamaan :
T + FA = w
T =
w – FA = w – ρ minyak V bola g
T = 16,8 N.
Contoh Soal 9 :
Sebuah benda memiliki volume 20 m3 dan massa jenisnya = 800 kg/m3. Jika benda tersebut dimasukkan ke dalam air yang massa jenisnya 1.000 kg/m3, tentukanlah volume benda yang berada di atas permukaan air.
Kunci Jawaban :
Diketahui: Vbenda = 20 m3,
ρbenda = 800 kg/m3, dan ρair = 1.000 kg/m3.
Volume air yang dipindahkan = volume benda yang tercelup
FA = ρ air V air-pindah g
= berat benda
FA = ρ air V bagian tercelup
g = mg
ρ air V bagian tercelup = ρ benda
V benda
(1 kg/m3) (Vbagian tercelup) = (800
kg/m3) (20 m3)
Vbagian tercelup = 16 m3
Vmuncul
= 20 m3 – 16 m3 = 4 m3.
Contoh Soal 10 :
Sebuah benda dimasukkan ke dalam air. Ternyata, 25% dari volume benda
terapung di atas permukaan air. Berapakah massa jenis benda tersebut?
Kunci Jawaban :
Diketahui : Vbenda terapung = 25%.
wbenda = FA
mg = ρ air V benda tercelup g
ρ air V benda g = ρ air V benda tercelup gCatatan Fisika :
Penaik air ini adalah alat yang diciptakan oleh Archimedes untuk
menaikkan air dari sungai atau kanal. Prinsip dasar dari alat ini adalah
bidang miring yang disusun menjadi pilinan (heliks). Apabila pegangan
di ujung tabung di putar, pilinan tersebut akan mengangkat air ke atas.
(Sumber: Jendela Iptek, 1997)
7. Aplikasi Hukum Archimedes
Hukum Archimedes banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, di
antaranya pada hidrometer, kapal laut, kapal selam, balon udara, dan
galangan kapal. Berikut ini prinsip kerja alat-alat tersebut.
a. Hidrometer
Hidrometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur massa jenis zat
cair. Proses pengukuran massa jenis zat cair menggunakan hidrometer
dilakukan dengan cara memasukkan hidrometer ke dalam zat cair tersebut.
Angka yang ditunjukkan oleh hidrometer telah dikalibrasi sehingga akan
menunjukkan nilai massa jenis zat cair yang diukur.
Berikut ini prinsip kerja hidrometer.
![]() |
| Hidrometer. [8] |
Gaya ke atas = berat hidrometer
FA = whidrometer
ρ1 V1 g = mg
Oleh karena volume fluida yang dipindahkan oleh hidrometer sama dengan
luas tangkai hidrometer dikalikan dengan tinggi yang tercelup maka dapat
dituliskan :
ρ1 (A h1) = m
dengan :
m = massa hidrometer (kg),
A = luas tangkai (m2),
hf = tinggi hidrometer yang tercelup dalam zat
cair (m), dan
ρf = massa jenis zat cair (kg/m3).
Hidrometer digunakan untuk memeriksa muatan akumulator mobil dengan cara
membenamkan hidrometer ke dalam larutan asam akumulator. Massa jenis
asam untuk muatan akumulator penuh kira-kira = 1,25 kg/m3 dan mendekati 1 kg/m3 untuk muatan akumulator kosong.
b. Kapal Laut dan Kapal Selam
Mengapa kapal yang terbuat dari baja dapat terapung di laut? Peristiwa
ini berhubungan dengan gaya apung yang dihasilkan oleh kapal baja
tersebut. Perhatikan Gambar 16 berikut.
![]() |
| Gambar 16. Kapal yang sama pada saat kosong dan penuh muatan. Volume air yang di pindahkan oleh kapal ditandai dengan tenggelamnya kapal hingga batas garis yang ditunjukkan oleh tanda panah. [9] |
Balok besi yang dicelupkan ke dalam air akan tenggelam, sedangkan balok
besi yang sama jika dibentuk menyerupai perahu akan terapung. Hal ini
disebabkan oleh jumlah fluida yang dipindahkan besi yang berbentuk
perahu lebih besar daripada jumlah fluida yang dipindahkan balok besi.
Besarnya gaya angkat yang dihasilkan perahu besi sebanding dengan volume
perahu yang tercelup dan volume fluida yang dipindahkannya. Apabila
gaya angkat yang dihasilkan sama besar dengan berat perahu maka perahu
akan terapung. Oleh karena itu, kapal baja didesain cukup lebar agar
dapat memindahkan volume fluida yang sama besar dengan berat kapal itu
sendiri.
Tahukah Anda apa yang menyebabkan kapal selam dapat terapung, melayang,
dan menyelam? Kapal selam memiliki tangki pemberat di dalam lambungnya
yang berfungsi mengatur kapal selam agar dapat terapung, melayang, atau
tenggelam. Untuk menyelam, kapal selam mengisi tangki pemberatnya dengan
air sehingga berat kapal selam akan lebih besar daripada volume air
yang dipindahkannya. Akibatnya, kapal selam akan tenggelam. Sebaliknya,
jika tangki pemberat terisi penuh dengan udara (air laut dipompakan
keluar dari tangki pemberat), berat kapal selam akan lebih kecil
daripada volume kecil yang dipindahkannya sehingga kapal selam akan
terapung. Agar dapat bergerak di bawah permukaan air laut dan melayang,
jumlah air laut yang dimasukkan ke dalam tangki pemberat disesuaikan
dengan jumlah air laut yang dipindahkannya pada kedalaman yang
diinginkan.
c. Balon Udara
Balon berisi udara panas kali pertama diterbangkan pada tanggal 21
November 1783. Udara panas dalam balon memberikan gaya angkat karena
udara panas di dalam balon lebih ringan daripada udara di luar balon.
Balon udara bekerja berdasarkan prinsip Hukum Archimedes. Menurut
prinsip ini, dapat dinyatakan bahwa sebuah benda yang dikelilingi udara
akan mengalami gaya angkat yang besarnya sama dengan volume udara yang
dipindahkan oleh benda tersebut.
![]() |
| Gambar 18. Balon udara dapat mengambang di udara karena memanfaatkan prinsip Hukum Archimedes. [10] |
8. Tegangan Permukaan
Pernahkah Anda memerhatikan bentuk cairan obat yang keluar dari penetes
obat atau bentuk raksa yang diteteskan di permukaan meja? Jika Anda
perhatikan, tetesan cairan obat yang keluar dari alat penetesnya
berbentuk bola-bola kecil. Demikian juga dengan bentuk air raksa yang
diteteskan di permukaan meja.
Tetesan zat cair atau fluida cenderung untuk memperkecil luas
permukaannya. Hal tersebut terjadi karena adanya tegangan permukaan.
Apakah tegangan permukaan itu? Agar dapat memahami tentang tegangan
permukaan zat cair, lakukanlah kegiatan Percobaan 2. berikut.
Percobaan Fisika Sederhana 2.
Mengamati Tegangan Permukaan Zat Cair
Alat dan Bahan :
- Klip kertas atau silet
- Bejana
- Sabun cair
Prosedur :
- Isilah bejana dengan air.
- Letakkanlah klip kertas atau silet dengan perlahan-lahan di permukaan air.
- Amatilah apa yang terjadi pada klip kertas atau silet tersebut.
- Selanjutnya, tuangkanlah sabun cair ke dalam bejana yang berisi air dan klip kertas atau silet.
- Amatilah apa yang terjadi dengan klip kertas atau silet.
- Bandingkanlah hasil pengamatan Anda pada langkah 5 dengan langkah 3. Apakah yang dapat Anda simpulkan dari kegiatan tersebut?
- Dapatkah Anda menjelaskan pengaruh sabun cair terhadap tegangan permukaan?
- Diskusikanlah dengan teman sekelompok dan guru Fisika Anda.
Contoh tegangan permukaan yang lain dapat Anda lihat jika Anda
memasukkan sebuah gelang kawat yang dipasang benang ke dalam larutan
sabun. Setelah dimasukkan ke dalam larutan sabun, pada gelang kawat akan
terdapat selaput tipis. Jika bagian tengah jerat benang ditusuk hingga
pecah akan terlihat jerat benang yang pada mulanya berbentuk tidak
beraturan, berubah menjadi berbentuk lingkaran.
Gelang kawat dan jerat benang yang dicelupkan ke dalam larutan sabun
sebelum dan sesudah selaput tipis bagian tengahnya ditusuk terlihat
seperti pada Gambar 20 berikut.
Gambar 20b menunjukkan bahwa permukaan zat cair dapat dianggap berada
dalam keadaan tegang sehingga zat-zat pada kedua sisi garis saling
tarik-menarik.
Tegangan permukaan (γ) di dalam selaput didefinisikan sebagai
perbandingan antara gaya permukaan dan panjang permukaan yang tegak
lurus gaya dan dipengaruhi oleh gaya tersebut. Perhatikan Gambar 21.
Gambar tersebut menunjukkan percobaan sederhana untuk melakukan
pengukuran kuantitatif tentang tegangan permukaan. Seutas kawat
dilengkungkan membentuk huruf U dan kawat kedua berperan sebagai
peluncur yang diletakkan di ujung kawat berbentuk U. Ketika rangkaian
kedua kawat tersebut dimasukkan ke dalam larutan sabun, kemudian
dikeluarkan. Akibatnya, pada rangkaian kawat terbentuk selaput tipis
cairan sabun. Selaput tipis tersebut akan memberikan gaya tegangan
permukaan yang menarik peluncur kawat ke bagian atas kawat U (jika berat
peluncur kawat sangat kecil). Ketika Anda menarik peluncur kawat ke
bawah, luas permukaan selaput tipis akan membesar dan molekul-molekulnya
akan bergerak dari bagian dalam cairan ke dalam lapisan permukaan.
![]() |
| Gambar 21. Rangkaian kawat untuk mengukur tegangan permukaan selaput tipis larutan sabun. Dalam keadaan setimbang, gaya tegangan permukaan ke atas 2γ l sama dengan gaya tarik peluncur ke bawah w + T. |
Dalam keadaan setimbang, gaya tarik peluncur ke bawah sama dengan
tegangan permukaan yang diberikan selaput tipis larutan sabun pada
peluncur. Berdasarkan Gambar 21, gaya tarik peluncur ke bawah adalah
F = w + T
Jika l adalah panjang peluncur kawat maka gaya F bekerja pada panjang total 2l karena
selaput tipis air sabun memiliki dua sisi permukaan. Dengan demikian,
tegangan permukaan didefinisikan sebagai perbandingan antara gaya
tegangan permukaan F dengan panjang d tempat gaya tersebut bekerja yang
secara matematis dinyatakan dengan persamaan
γ = F d
Oleh karena d = 2l, tegangan permukaan dinyatakan dengan persamaan :
γ = F / 2l
Tegangan permukaan suatu zat cair yang bersentuhan dengan uapnya sendiri
atau udara hanya bergantung pada sifat-sifat dan suhu zat cair itu.
Berikut harga tegangan permukaan berdasarkan eksperimen. Berikut ini
nilai tegangan permukaan beberapa zat cair berdasarkan hasil eksperimen.
Tabel 2. Harga Tegangan Permukaan Berdasarkan Eksperimen
Zat Cair
yang Berhubungan dengan Udara
|
1°C
|
Tegangan Permukaan (dyne/cm)
|
Air
Air
Air
Air
Air
sabun
Benzena
Etil
Alkohol
Gliserin
Helium
Karbon
Tertrakhlorida
Minyak
Zaitun
Neon
Oksigen
Raksa
|
0
20
60
100
20
20
20
20
–269
20
20
–247
–193
20
|
75,6
72,8
66,2
58,9
25,0
28,9
22,3
63,1
0,12
26,8
32,0
5,15
15,7
465
|
Sumber: College
Physics, 1980
|
||
9. Kapilaritas
Kapilaritas adalah peristiwa naik atau turunnya permukaan zat cair pada pipa kapiler, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 22.
Pada gambar tersebut, diameter dalam pipa kapiler dari kiri ke kanan
semakin kecil. Semakin kecil diameter dalam pipa kapiler, kenaikan
permukaan air di dalam pipa kapiler akan semakin tinggi.
![]() |
| Gambar 22. Tabung pipa kapiler. [12] |
Permukaan zat cair yang membasahi dinding, misalnya air, akan naik.
Adapun yang tidak membasahi dinding, seperti raksa, akan turun. Dalam
kehidupan sehari-hari, contoh-contoh gejala kapiler adalah sebagai
berikut. Minyak tanah naik melalui sumbu lampu minyak tanah atau sumbu
kompor, dinding rumah basah pada musim hujan, air tanah naik melalui
pembuluh kayu.
Peristiwa air membasahi dinding, atau raksa tidak membasahi dinding
dapat dijelaskan dengan memperhatikan gaya tarik-menarik antarpartikel.
Gaya tarik-menarik antarpartikel sejenis disebut kohesi, sedangkan gaya
tarikmenarik antarpartikel tidak sejenis disebut adhesi. Air membasahi
dinding kaca karena adanya gaya kohesi antarpartikel air yang lebih
kecil daripada gaya adhesi antara partikel air dan partikel dinding
kaca. Sedangkan, raksa memiliki gaya kohesi lebih besar daripada gaya
adhesinya dengan dinding kaca sehingga tidak membasahi dinding kaca.
Gaya adhesi air yang lebih besar dari kohesinya menyebabkan permukaan
air berbentuk meniskus cekung, sedangkan gaya kohesi raksa lebih besar
dari gaya adhesinya sehingga menyebabkan permukaan raksa berbentuk
meniskus cembung. Jika zat cair dimasukkan ke dalam suatu pipa kapiler,
permukaan zat cair tersebut akan melengkung. Permukaan melengkung zat
cair di dalam pipa disebut meniskus.
![]() |
| Gambar 23. Gaya tegangan permukaan pada fluida dalam tabung kapiler. Fluida naik jika θ < 90° dan turun jika θ > 90°. |
Gambar 23 memperlihatkan gaya tegangan permukaan cairan di dalam pipa
kapiler. Bentuk permukaan cairan di dalam pipa kapiler bergantung pada
sudut kontak (θ ) cairan tersebut. Permukaan cairan akan naik jika θ
< 90° dan turun jika θ > 90°.
Naik atau turunnya permukaan zat cair dapat ditentukan dengan persamaan berikut.
mg = F cosθ
ρ Vg = γ l cosθ
ρ π r2hg = γ 2π r cosθ
dengan:
h = kenaikan atau penurunan zat cair (m),
γ = tegangan permukaan (N/m),
g = percepatan gravitasi (m/s2), dan
r = jari-jari alas tabung/pipa (m).
Jika suatu zat cair membasahi dinding pipa, sudut kontaknya kurang dari
90° dan zat cair itu naik hingga mencapai tinggi kesetimbangan.
Zat pencemar yang ditambahkan pada zat cair akan mengubah sudut kontak
itu, misalnya detergent mengubah sudut kontak yang besarnya lebih dari
90° menjadi lebih kecil dari 90°. Sebaliknya, zat-zat yang membuat kain
tahan air (waterproof) menyebabkan sudut kontak air dengan kain menjadi
lebih besar dari 90°. Berikut beberapa nilai sudut kontak antara zat
cair dan dinding pipa kapilernya.
![]() |
| Gambar 24. Efek bertambah kecilnya sudut kontak yang ditimbulkan suatu zat pencemar. |
Tabel 3. Sudut Kontak
Zat Cair
|
Dinding
|
Sudut Kontak
|
α - Bromnaftalen (C10H7Br)
|
Gelas Biasa
Gelas Timbel
Gelas Tahan Panas (Pyrex)
Gelas Kuarsa
|
5°
6° 45'
20°30'
21°
|
Metilen Yodida (CH2l2)
|
Gelas Biasa
Gelas Timbel
Gelas Tahan Panas (Pyrex)
Gelas Kuarsa
|
29°
30°
29°
33°
|
Air
|
Parafin
|
107°
|
Raksa
|
Gelas Biasa
|
140°
|
Contoh Soal 11 :
Suatu tabung berdiameter 0,4 cm jika dimasukkan secara vertikal ke dalam
air, sudut kontaknya 60°. Jika tegangan permukaan air 0,5 N/m dan g =
10 m/s2, tentukanlah kenaikan air pada tabung.
Kunci Jawaban :
Diketahui: dtabung = 0,4 cm, θ = 60°, γ = 0,5 N/m, dan g = 10 m/s2.
h = 0,025 m = 2,5 cm.


































Komentar
Posting Komentar